Jumat, 21 Maret 2014

Apa Sholehah?

Sholehah itu apa?
perempuan yang baik bak bidadari di surga,
di kehidupan dunia juga akhiratnya,
tak hanya jasmani, tapi rohaninya juga.

Yang Maha Segala,
tak melihat fisiknya,
pakaian dan harta saja,
melihat pada hatinya pula.

Sholehah?
banyak cara tuk menjadi sholehah,
tanpa harus dijajah,
juga menjajah,

Cukup tunaikan tugas mulia,
tak hanya menyembah-Nya,
berlaku santun pada umat manusia,
menjaga raga dan alam semesta,

Hati orang tak ada yang tahu,
hanya Allah Sang Maha Tahu,
nilai sekilas bisa pun kau,
rajin sholat pastilah tentu.

Senin kamis rajin berpuasa,
bela agama dengan jiwa,
hartanya dipertaruhkannya,
nilai orang bukan fisik namun hatinya.

Baik pada ibu mertua,
yang teramat sayang pada putranda,
saingan diriku istri tercinta,
aiiihhhh, biarkan dia berpeluk mesra.

Jangan seret suami ke neraka,
karena pinta-pinta,
ambil harta negara,
walaupun tak masuk penjara.

Berikan yang dipunya,
doa pintakan bagi saudara,
apakah cukup itu sahaja?
jadi perhiasan terindah dunia!

tambahkan bila kau punya!

Cantiknya Hatimu

Wajah yang biasa saja
Mata yang biasa saja
Senyum pun biasa saja
Namun Sang Maha Raja telah mencipta,
dari sebaik-baik ciptaan

Siratkan!
Semua mengembang dengan ketulusan
Sahabat tentram di sampingmu
Pesona kelembutan, mendayu
Melukis lembayung dalam haluan motivasi
Menuju masa depan

Indahnya kekuatan yang tampak
Tak lebih indah kala hati rusak
Kecantikan Cleopatra pun pudar sesaat
Bila  hanya kecantikan luar
Yang tertinggal hanya bodoh

Celoteh hati insan yang bersih
Senantiasa memeluk cinta dalam diri

Maha Pencipta, tak melihat tubuh nan molek
Namun lubuk hati yang bersih yang terpilih

Kubungkus lapal doa
Hati yang kujaga
Karena kecantikan fisik entah berapa lama
Kecantikan hatilah yang akan dibawa
Kepangkuan-Nya

Rabu, 19 Maret 2014

Melayani setulus hati, Mengabdi tiada henti


Birokrasi, sebuah kata yang begitu sederhana tetapi terbayangkan serumit benang yang kusut. Bila mendengar kata birokrasi, hal pertama yang terbayangkan adalah rasa lelah dan kesal menghadapi rangkaian proses panjang yang tidak diketahui dimana ujungnya, aturan-aturan yang kurang bahkan tidak jelas transparansinya juga adanya unsur ‘uang’. Sebagai masyarakat awam birokrasi bagai fenomena kemacetan yang terjadi sehari-hari di kota-kota besar, sulit dihindari, dan sulit pula untuk diatasi. Pada akhirnya, masyarakat hanya dapat mengeluh menghadapi sistem yang mungkin tidak bisa diubah hanya dalam sekejap mata. Keluhan ini merupakan bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh lembaga-lembaga pemerintahan. Padahal kualitas pelayanan publik merupakan indikator penting untuk mengetahui sejauh mana suatu pemerintahan telah menjalankan amanah yang diberikan rakyat kepada Pemerintah.

Politik, pelayanan publik dan birokrasi adalah tiga mata rantai yang saling terhubung guna mencapai kemajuan suatu negara. Pelayanan publik merupakan hasil dari proses politik yang ditindaklanjuti oleh birokrasi pemerintahan. Bila salah satu dari ketiganya mengalami kebobrokan maka bisa dipastikan arus informasi dan kebijakan yang dilewatkan akan banyak mengalami penyimpangan dan in-efisiensi.

Carut marutnya kondisi bangsa ini diberbagai sisi juga mungkin tidak lepas dari pengaruh buruknya birokrasi dan pelayanan publik. Hal ini sejalan dengan laporan bank dunia dalam World Development Report 2004 yang menyatakan bahwa pelayanan publik di Indonesia tergolong masih sangat buruk. Fakta dilapangan membuktikan bahwa kasus-kasus ketidakjelasan aturan mengenai biaya dan waktu pelayanan yang berujung pada KKN masih marak terjadi. Padahal berbagai peraturan perundangan telah dibuat oleh pemerintah seperti UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dari KKN. Kenyataannya peraturan perundangan tersebut kini tak lebih hanya goresan tinta hitam diatas kertas putih belaka.

Bagaimana cara mengatasinya?
Beberapa langkah strategis yang menurut saya dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja kelembagaan birokrasi yaitu:

1. Membangun Kesadaran Bahwa Birokrat adalah “Pelayan Rakyat”
Sudah saatnya paradigma pemerintah sebagai pemegang kekuasaan itu diubah menjadi pelayan rakyat. Bila seseorang menganggap dirinya tinggi dan berkuasa maka dia hanya akan memberikan kemampuan sekedarnya untuk rakyat, tapi bila seseorang sejak awal berniat untuk mengabdikan dirinya untuk melayani maka orientasi pertama adalah bagaimana memuaskan hati rakyatnya. Sosok seorang raja semestinya bukan hanya sebagai simbol kekuasaan belaka tapi juga merupakan simbol pelayan terbaik bagi rakyatnya. Sehingga raja tersebut disegani bukan karena orang-orang takut akan kekuasaannya tetapi karena rakyat mencintainya.

2. Membangun Kesadaran Bahwa Masyarakat adalah “Raja”
Sebuah pepatah kuno menyatakan bahwa pembeli adalah raja. Pada kasus birokrasi dan pelayanan publik, masyarakat dapat diumpamakan sebagai seorang pembeli jasa yang harus dilayani bak seorang raja. Sebagai raja tentunya rakyat harus dilayani sebaik mungkin. Bila dilihat pada kenyataannya saat ini, penempatan peran rakyat sebagai raja yang harus dilayani itu masih sangat jauh dari harapan. Beberapa oknum birokrat masih sering terlihat congkak ketika melakukan kegiatan Pelayanan Publik. Dengan menempatkan posisi rakyat sebagai raja, seharusnya kenyamanan publik sangat diperhatikan sebagai pengguna layanan, apa yang diinginkan publik sebaiknya menjadi orientasi pertama yang perlu diproritaskan oleh para birokrat.

3. Memberikan sanksi yang tegas dan jelas terhadap berbagai jenis pelanggaran yang dilakukan oleh oknum di lembaga-lembaga pelayanan publik.
Bagaimana pun hebatnya strategi yang dibuat di daerah, tidak akan bertahan lama jika akar utama permasalahannya tidak diselesaikan. Ibarat rumput liar, sekalipun tajuknya dibasmi tapi jika akarnya masih utuh maka sia-sia saja karena ia pasti akan tumbuh lagi dengan bentuk yang lain. Pembenahan berkesinambungan perlu dilakukan sembari terus membuat terobosan-terobosan kecil yang aplikatif di masyarakat. Sembari melakukan pembenahan jangka panjang tersebut, masih ada hal-hal lain yang dapat dilakukan pemerintah untuk meminimalisir penyebaran dan perluasan patologi birokrasi ini secara progresif. Misalnya saja seperti yang saat ini sedang popular yaitu membuat model-model best practices untuk skala kecil tingkat daerah hingga provinsi.

Sebagai bagian dari pengguna layanan publik, saya mencoba untuk menuangkan ide pribadi membentuk model best practices yang berorientasi pada desa. Desa merupakan unit birokrasi terkecil yang langsung menyentuh lapisan masyarakat, sehingga perubahan signifikan terkait birokrasi sangat potensial untuk dikembangkan di desa. Sejauh yang saya lihat selama ini kegiatan-kegiatan pelayanan publik lebih banyak berorientasi untuk wilayah yang cakupannya luas dan cenderung dipusatkan di satu titik, misalnya kecamatan atau bahkan kabupaten. Bahkan untuk beberapa daerah yang belum mempunyai model best practices, pola pelayanannya masih cenderung mengikuti hierarki, dimana bila akan mengurus surat-surat kependudukan saja misalnya, masyarakat harus mendapat surat pengantar dari RT hingga kecamatan, yang terkadang pihak berwenangnya sulit ditemui.

Menurut saya hal itu kurang efisien dan efektif, untuk membuat surat-surat yang berhubungan dengan administrasi negara saja, harus keliling sana sini, yang tentunya menjadi kendala karena memakan waktu dan tenaga. Belum lagi bila desa tersebut merupakan desa terpencil yang akses transportasinya sulit. Alangkah lebih baiknya bila di setiap desa dibuatkan sebuah tempat khusus untuk menangani berbagai bentuk administrasi negara seperti membuat KTP, surat nikah, akta dan sebagainya. Dapat dibayangkan betapa efektifnya bila membuat surat-surat kependudukan semudah membuat ATM di bank, layanannya senyaman ketika ada di tempat-tempat pelayanan publik milik swasta dimana setiap orang diperlakukan ramah dan dilayani dengan cepat dan tidak berbelit-belit. Dengan mudahnya akses internet dan kecanggihan teknologi saat ini, sebaiknya data-data mengenai kependudukan dan administrasi negara tersebut disatukan pada satu server yang sama. Dengan demikian dapat menghemat kertas, waktu dan memudahkan pengecekan bila ternyata ada kesalahan juga memudahkan akses dimanapun dan kapanpun.

Unit pelayanan masyarakat yang ada didesa-desa tersebut dapat diibaratkan seperti sebuah ranting dimana satu ranting dengan ranting lain dapat terhubung dengan mudah bagai sebuah sistem dalam pohon. Dengan demikian harapannya orang yang asalnya dari desa A tetapi merantau sampai di kota B desa C, dapat dengan mudah membuat surat-surat kependudukan tanpa harus ia pulang ke kampung halamannya dulu.

Dalam hal pertanian, selain dibangun unit pelayanan administrasi terpadu ditingkat desa, saya juga berpikir alangkah baiknya bila di desa-desa juga diadakan semacam tempat yang dapat pula disebut agricultural center, AC (agricultural center) yang dapat digunakan sebagai wadah untuk membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat terutama terkait dengan bidang-bidang pertanian dalam arti luas. AC juga dapat dijadikan tempat untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat yang bergerak dibidang pertanian secara luas untuk menghasilkan produk unggul berbasis sumberdaya lokal yang mampu menembus pasaran ekspor. AC juga dapat digunakan sebagai wadah sosialisasi kebijakan pemerintah terkait dengan bidang-bidang pertanian dalam arti luas. Dengan demikian diharapkan keberadaan AC dapat mendongkrak pengetahuan masyarakat tentang pertanian sekaligus meningkatkan perekonomian di tingkat desa.

Terkait masalah kesehatan, saya tertarik untuk menyoroti kasus Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Kesehatan adalah masalah vital bagi setiap orang, sudah sepatutnya masalah kesehatan benar-benar menjadi perhatian utama terlebih untuk masyarakat kelas menengah kebawah. Umumnya biaya rawat inap dan obat dirumah sakit sangat mahal dan tidak terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah. Sangat disayangkan melihat pengguna Jamkesmas hanya diperlakukan sekedarnya di rumah sakit-rumah sakit rujukan. Sekedarnya dalam artian kurang diprioritaskan. Jika mereka bisa memilih, mungkin mereka rela menghabiskan seluruh kekayaan yang mereka miliki untuk pelayanan kesehatan yang terbaik. Tetapi saya yakin mereka seperti itu karena mereka tidak mampu untuk memilih, karena itu pada saat seperti inilah kebijaksanaan pemerintah sebagai pembuat kebijakan juga pemberi layanan publik sangat penting peranannya. Saya hanya ingin memberi masukan, jika memang bisa memberi bantuan pelayanan kesehatan yang terbaik, kenapa tidak?

Terinspirasi sebuah rumah sakit di Korea, yang membedakan rumah sakit tersebut dengan rumah sakit pada umumnya yaitu terdapat semacam badan amal di dalam rumah sakit yang gencar mencari donor biaya untuk pasien tidak mampu yang masuk ke rumah sakit tersebut. Bahkan pihak rumah sakit memberikan diskon biaya perawatan yang cukup besar untuk orang-orang yang tidak mampu, padahal rumah sakit tersebut termasuk rumah sakit swasta. Hal yang lebih membuat saya terharu yaitu rumah sakit tersebut tidak membeda-bedakan pelayanan kesehatan untuk pasien yang masuk ke rumah sakit tersebut. Baik dokter maupun pekerja di rumah sakit tersebut benar-benar sangat ramah dan memperhatikan pasiennya, bahkan pada libur-libur pergantian musim, pihak rumah sakit mengadakan semacam acara hiburan untuk pasien-pasien yang memang sudah tahunan menjadi pasien tetap di rumah sakit tersebut. Acara hiburan tersebut juga tidak diisi oleh orang luar, tetapi juga orang-orang dalam rumah sakit sendiri, dimulai oleh para dokter, perawat hingga staf rumah sakit tersebut tak segan-segan unjuk gigi dihadapan para pasiennya.
Menurut saya hal ini sangat menarik, karena membuat gap antara pihak rumah sakit dan pasien semakin kecil, dengan demikian harapannya pasien merasa nyaman dan tidak tertekan dengan penyakitnya sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung dengan baik.
Saya juga ingin menyarankan puskesmas didirikan disetiap desa dengan jam operasional 24 jam dengan kualitas pelayanan prima. Berdasarkan pengalaman saya, tidak jarang masyarakat kecil enggan berobat dini dan menganggap penyakitnya ringan, padahal jika hal ini dibiarkan berlarut-larut justru membuat penyakitnya semakin parah. Pada akhirnya biasanya mereka terpaksa harus masuk rumah sakit dan menghabiskan banyak uang karena penyakitnya sudah tidak dapat ditangani oleh dokter biasa. Hal ini sangat ironi, bila akses terhadap kesehatan untuk kalangan menengah ke bawah itu mudah, cepat dan murah mungkin tidak akan seperti ini. Beberapa cerita terkait pendaftaran kartu jamkesmas lainnya yakni masyarakat mengeluhkan prosedur yang lama, padahal sakit yang mereka derita bukanlah sesuatu yang dapat diminta untuk menunggu.

Ide saya yang lain terkait tema best practices pelayanan publik yaitu membuat semacam tempat pelatihan keterampilan, wirausaha dan pemberdayaan masyarakat ditingkat desa. Misalnya ditempat tersebut masyarakat diajarkan proses pemisahan sampah organik dan anorganik, bagaimana membudayakan lingkungan sehat dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, juga pelatihan membuat bahan yang dapat dimanfaatkan dari kedua jenis sampah tersebut. Masyarakat juga diberi pelatihan untuk melatih keterampilan dalam membuat wirausaha mandiri. Tidak hanya sebatas wadah untuk melatih keterampilan, tapi lebih dari itu tempat tersebut mampu menjadi pusat dari kegiatan kreativitas juga menjadi tempat induk sementara yang mewadahi hasil-hasil kreativitas masyarakat sebelum mereka siap untuk dilepas secara mandiri.

Senin, 17 Maret 2014

Surat Terbuka Seorang Ikhwan untuk Seluruh Akhwat di Dunia

Buatmu bunga,

dan bunga-bunga yang sedang mekar di taman-taman yang lainnya,

aku punya hadiah buat kalian..


(Surat Terbuka Seorang Ikhwan untuk Seluruh

Akhwat di Dunia)


Ukhtifillah,

Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa

peduli?

Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak

perlu mengenalku.

Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu

dengan bunga terindah sekalipun.

Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah,

tersempurna dan tertinggi.

Bagiku dirimu salah satu dari semua itu,

karenanya kau tak membutuhkan persamaan.


Ukhtifillah,

Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh,

karena akan membuatku mengingatmu.

Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.

Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap

dinding khayalku.

Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa,

sesemangat mentari.

Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku

yang masih penuh Lumpur.

Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.


Ukhtifillah,

Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan

mimpi tak berujung.

Ada ingin tapi tak ada henti.

Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat

selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani

kusentuh.

Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku

karena sucimu kaupertaruhkan.

Mungkin kau tak peduli

Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku

bila kau kalah.

Dan tak lebih dari wanita biasa.


Ukhtifillah,

Jangan pernah kautatapku penuh

Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk

melihatku.

Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku

seorang yang masih kotor.

Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah

burukku, mengenakan pakaian sutra emas.

Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor

dari Lumpur.

Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau

termanipulasi.

Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.


Ukhtifillah,

Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang

dengan sepenuh hati membawamu kehadapan

Tuhanmu.

Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam

kitab suci, tak perlu dipikir lagi.

Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam

rangkaian khitbah dan akad yang indah.

Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah

hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.

Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir

dalam kitab suci.


Ukhtifillah,

Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.

Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu,

mungkin sekarang atau nanti,

bahkan mungkin tiada sampai kau mati.

Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.

Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu,

yang kau bangun dengan segala kekhusyuan

tangis doamu.


Ukhtifillah,

Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu

pilihan-Nya.

Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.

Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang

terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,

seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu

yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.

Atau mungkin kebaikan itu terletak

pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.

Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta

dalam setiap denyut nadi kita.

Sesuatu Yang Ada di Pipimu

Sayang, sepertinya aku akan tenggelam disitu

Ya! Tenggelam tepat di lesung pipitmu

Ia terbentuk indah saat kau tersenyum

Mungkin cekungan di pipi-mu terbuat dari Segitiga Bermuda

Ia membuatku hilang kendali

Terhanyut..

Kemudian tenggelam di samudera-nya

Saat Slamet Waspada

Setelah Kelud

Slamet,
Asap
Gelap
Gemuruh
Getar
Kau guncangkan

Apakah itu tanda?
Bahwa kau lelah?
Menyimpan magma?
Menampung lava?
Dengan berjutajuta

Kuharap tidak
Biarkan kutatap elokmu
Biarkan kunikmati gagahmu
Jangan sekarang
jangan
Karena kau Slamet

*saat slamet dalam waspada

Rabu, 12 Maret 2014

Apakah Menyontek itu baik?

Menyontek? Yaa itulah kebiasaan pelajar sekarang. Mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Sebagian orang tahu bahwa menyontek itu tidak baik dan merupakan sebuah dosa, karena menyontek itu sama saja dengan mencuri jawaban orang lain. Namun juga beberapa orang membenarkan dirinya dengan menyontek.

"Kan saya yang menyontek, bukan Anda !"

Yaa kita sering kali mendengar ucapan ini, atau mungkin kita pernah mengucapkannya? Yups.. Memang benar orang lain yang menyontek, kenapa kita harus peduli? Atau apa gunanya kita menegur orang tersebut?

Tapi.. Sudah sepatutnya kita sebagai sesama manusia untuk saling mengingatkan akan suatu perbuatan yang salah. Tugas kita hanya memberitahu dan membuat orang tersebut menanggapinya.
Hanya orang bodoh yang melakukan hal-hal bodoh dan orang baik melakukan hal-hal yang baik. Jadi kita hanya tinggal memilih apakah kita ingin menjadi orang bodoh atau orang baik?

"Saya ingin nilai yang bagus, makanya saya menyontek !"


Yang ingin nilai bagus bukannya semua orang yaa? Emang apa sih gunanya nilai? Itukan hanya angka-angka saja. Bukannya yang penting itu ilmunya yaa? Iya benar memang nilai itu salah satu syarat untuk dapat lulus. Tapi kalau Anda lulus dengan menyontek ilmu apa yang Anda dapat? Sia-sia kan waktu Anda sekolah dulu? Memang penyesalan selalu datang terakhir.

"Di agama kan tidak dilarang !"


Apakah kita tahu artinya mencuri? Mencuri itu adalah mengambil apa yang bukan milik kita. Jadi apakah bedanya menyontek dengan mencuri? Menyontek kan juga mengambil apa yang bukan milik kita. Jadi sama bukan? Trus hubungannya dengan agama apa? Di agama kan kita diajarkan bagaimana berperilaku baik kepada sesama, trus apakah menyontek itu perbuatan baik? Jelas tidak. Jadi apakah kita masih mau menambah dosa kita lagi? Ingat semakin banyak dosa kita semakin besar kemungkinan kita akan di neraka. Tapi kan masih ada waktu untuk bertobat? Kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, jadi apa salahnya jika kita mulai berhenti menyontek dari sekarang? Dan ingat semua perbuatan jahat manusia yang dilakukan di bumi akan dibayar setimpal dengan apa yang ia telah lakukan.

"Teman-teman saya menyontek, kenapa saya tidak boleh?"

Hanya agama yang melarang Anda menyontek, bahkan tidak ada UU tentang mencontek. Semua tergantung dari diri Anda sendiri. Apakah Anda tahu kehebatan dari ikan-ikan di laut? 
Mereka tinggal di laut yang asin namun mereka tidak menjadi asin. Nah mari belajar dari ikan-ikan di laut yang dapat mempertahankan kemurnian rasanya. Jadi apakah kita mau menjadi asin di laut yang asin atau kita tetap ingin menjaga kemurnian rasa kita?

"Saya merasa bodoh sehingga saya menyontek."


Semua yang ada di hidup ini adalah pilihan. Kita bisa memilih apakah kita ingin menjadi bodoh atau pintar? Kalau Anda ingin pintar ya belajar, simple bukan? Anda bodoh karena Anda tidak belajar, benar bukan? Jangan pernah merendahkan diri Anda dengan mengatakan bahwa Anda bodoh. Memang semua orang memiliki kelebihannya masing-masing, tapi dengan usaha yang keras apa sih yang tidak mungkin?

"Jangan munafik, Anda juga pernah menyontek bukan?"

Iya, saya memang pernah menyontek dan sampai sekarang saya juga masih berusaha untuk tidak menyontek lagi. Memang hal yang sudah menjadi kebiasaan itu susah untuk dihilangkan, namun jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, kita pasti bisa. Mari kita sama-sama berusaha. Ingatlah bahwa kita hanya sementara di dunia ini. Tujuan akhir setiap manusia adalah kehidupan yang kekal di surga nanti. Jadi, marilah kita bersama-sama berjuang untuk mencapai surga itu !

Menurut pendapat saya:
Sebenarnya faktor yang membuat orang menyontek itu berasal dari kurikulum pendidikan sekarang ini. Yang hanya memfokuskan pada teori-teori serta kurangnya praktek dan tampa diimbangi dengan pembinaan akhlak dan mental yang baik. Sehingga tujuan setiap pelajar adalah hanya untuk mendapatkan nilai untuk lulus dan cara termudah untuk mendapatkan nilai itu adalah dengan menyontek, sehingga menyontek di kalangan pelajar itu sudah seperti kewajiban untuk lulus.

Terus apa yang sebaiknya saya lakukan?

Cobalah untuk tidak menyontek lagi secara perlahan-lahan namun pasti. Memang susah, saya pun mengakuinya. Cobalah untuk belajar sebelum menghadapi ujian, percaya pada diri sendiri, dan jangan pernah menganggap diri Anda bodoh. Satu hal yang memotivasi saya untuk berusaha berhenti menyontek adalah kesadaran akan kehidupan yang fana. Kita hidup di dunia hanya sementara dan hidup ini hanya sebuah proses menuju surga. Jadi layakanlah diri kita supaya menjadi penghuni surga.

Saya punya satu tokoh yang menginspirasi saya, yaitu Dietrich Mateschitz seorang jutawan asal Austria. Beliau adalah pendiri dari minuman energi yang terkenal di dunia, yaitu kratingdaeng. Ketika beliau sedang berkunjung ke Thailand, di sana minuman-minuman berenergi dijual dengan harga yang tinggi. Sehingga hal ini membuat beliau tertarik untuk terjun ke bisnis ini. Namun yang saya kagum adalah beliau tidak mau mencontek resep-resep yang sudah ada, namun beliau justru berusaha berkali-kali sampai menemukan resep yang pas untuk minuman tersebut. Dan minuman itu beliau namakan kratingdaeng yang dalam bahasa Thailand berarti kerbau merah. Dan akhirnya kratingdaeng terus berkembang sampai seperti saat ini.

Jadi marilah kita menjadi manusia-manusia yang luar biasa dengan usaha sendiri dan tanpa menyontek :) Lets make it real guys :D